Kini
Indonesia telah mencapai kemerdekaan hampir genap 67 tahun, namun permasalahan
pendidikan selalu muncul silih berganti dan belum terseleseikan dengan baik
seperti apa yang diharapkan berbagai pihak. Banyak para pakar pendidikan
mengatakan bahwa keterpurukan pendidikan di Indonesia ini tidak lepas dari
kebijakan dan peran Rezim Orde Baru yaitu antara tahun 1965 – 1998. Yang mana
waktu itu pemerintah Orde Baru tidak / kurang peduli pada pendidikan, misalnya
untuk sektor pendidikan hanya dianggarkan 7 % saja dari APBN ( Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara), padahal Malaysia dan Thailand pada waktu itu
sudah menganggarkan lebih dari 20 % untuk pendidikan dari APBN nya. Persoalan
anggaran, meski tidak menjadi satu-satunya faktor penentu bidang pendidikan,
tetapi keberadaannya memiliki dampak yang sangat besar terhadap dunia
pendidikan dan bagi kemajuan bangsa.
Untuk saat
ini Pemerintah menganggarkan pendidikan sebesar 20 % dari APBN/D, memang secara
absolut dari nilai rupiah ( tahun 2010 mencapai Rp195,6 triliun / www.mediaindonesia.com/read/2009/06/06/81875/88/14/Anggaran-Pendidikan
/ tgl 22 Mei 2010 ) maupun prosentase relatif mengalami kenaikan cukup
tinggi dibanding masa Rezim Orba. Namun angka tersebut ternyata termasuk gaji
Guru dan Dosen yang mestinya masuk pada belanja rutin Negara. Sehingga kondisi
ini banyak pihak mempertanyakan komitmen pemerintah dalam upaya mencerdaskan
kehidupan bangsa yang telah merdeka selama hampir genap 67 tahun ini.
Fenomena Masa Depan
Berbicara
masalah masa depan, tidak ubahnya berbicara masalah globalisasi, semakin
berkembangnya ilmu dan teknologi dunia ini semakin mengglobal atau bahasa
lugasnya adalah semakin tidak adanya pembatas ruang dan waktu antara negara
satu dengan Negara lainnya di dunia ini. Eksistensi suatu bangsa akan
menentukan dan atau membawa dampak pada kemampuan untuk dapat hidup dan
bertahannya suatu bangsa dan Negara dalam percaturan dunia yang sangat kejam
dan semakin biadab ini. Tentunya negara – negara majulah yang akan menguasai
dunia, sedangkan negara yang kualitas sumber daya manusianya rendah akan
tenggelam percaturan dunia yang semakin mengglobal, dan hanya akan dijadikan
sebagai pasar bagi Negara yang dapat menggemgam dunia.
Pertanyaan
muncul, bagaimana dengan kualitas SDM Indonesia ?. Sebagaimana dijelaskan di
atas kualitas SDM bangsa ini dalam kategori rendah, dan rendahnya kualitas SDM
disebabkan pula oleh rendahnya kualitas pendidikan yang sedang berjalan dalam
roda kehidupan bangsa yang telah merdeka genap berusia 67 tahun. Sudah saatnya,
semua komponen bangsa khususnya Pemerintah untuk peduli meningkatkan kualitas
pendidikan sebagai modal dasar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Pembicaraan
kualitas bangsa ini tidak cukup hanya membicarakan masalah kurikulum ataupun
guru, namun banyak komponen yang harus dibenahi dalam rangka untuk meningkatkan
kualitas pendidikan ini. Secara makro dapat dikatakan perlu adanya Visi,
Komitmen dan kedisiplinan dari semua komponen bangsa untuk melakukan upaya
keras dan serius untuk meningkatkan pendidikan dalam menghadapi masa akan
datang yang penuh dinamika dan persaingan yang ketat dan bahkan kejam dan
biadab. Keberadaan Indonesia dalam percaturan dan dinamika dunia termasuk adalah
demi peningkatan kesejahteraan seluruh warganya. Untuk mencapai tujuan dimaksud
diperlukan berbagai organisasi dan pemimpin bangsa yang tangguh dan handal baik
secara internal maupun ekternal serta lingkungan pemerintah yang bersih untuk
menghadapi berbagai tantangan yang bentuknya berbeda-beda.
Tantangan
masa depan bangsa adalah : ( htt/prinoan/staff.uns.ac.id/files21
Maret 2007 /tantangan-masa-depan-komitmen-nasional1/.pdf /oleh Rino A Nugroho/
tgl 24 Mei 2010 )
1) Globalisasi
Ekonomi.
Masalah kemiskinan adalah masalah yang kompleks dan berkepanjangan,
dikatakan kompleks karena kemiskinan disebabkan oleh banyak faktor dan
berdampak pada banyak sektor, dikatakan berkepanjangan karena masalah
kemiskinan ini sejak zaman Orla dan Orba hingga zaman reformasi ini belum
terseleseikan dengan baik, bahkan pada tahun 2009 angka kemiskinan ( 14,15 % )
berada diatas angka terendah yang terjadi masa sebelum krisis yaitu 11,3 %
(Faisal Basri , 2009:58).
Pada sisi lain kemiskinan adalah masalah dunia dan tidak hanya terjadi di
Indonesia, bahkan negara majupun masalah kemiskinan ini relatif tetap ada. Yang
membedakan adalah jumlah atau tingkat kemiskinan serta batasan tentang kriteria
kemiskinan. Karena di Indonesia sendiri antara jumlah yang disampaikan oleh
Pemerintah/BPS terjadi perbedaan dikarenakan penetapan kriteria kemiskinan.
2) Pengangguran.
Tidak jauh beda dengan masalah kemiskinan , masalah pengangguran juga
merupakan masalah globalisasi ekonomi yang mana sampai saat ini banyak Negara
di dunia ini termasuk Indonesia juga belum menyelesaikan dengan baik. Jika
masalah pengangguran ini tidak terseleseikan dengan baik tidak khayal lagi
pengangguran akan berdampak pada sektor dan kehidupan manusia lainnya, termasuk
kemampuan untuk memenuhi kebutuhan akan pendidikan.
3) Tanggung
jawab sosial.
Tanggung jawab sosial yang dimaksud adalah tanggung jawab sosial yang
dilakukan oleh para pelaku Bisnis atau Perusahaan. Aktifitas Perusahaan
memunculkan dampak kepada pihak lain yang bersifat merugikan ( eksternalitas ).
Eksternalitas ini tidak hanya terjadi di negara sedang berkembang seperti
Indonesia, namun juga terjadi pada Negara Maju seperti Amerika. Masalah
eksternalitas sampai saat ini belum ada penyelesaian yang diharapkan banyak
pihak baik dari Pemerintah maupun Masyarakat. Undang – undang telah
dikeluarkan, kebijakan telah dilaksanakan, namun hingga sekarang eksternalitas
tumbuh, hilang, berganti. Seingga masalah dampak negatif/eksternalitas memerlukan kepedulian dari para pelaku usaha
khususnya di sektor industri untuk dapat menangani masalah eksternalitas secara
serius, karena masalah eksternalitas ini jika tidak terseleseikan dengan baik
akan merusak ekologi dan kehidupan manusia. Eksternalitas yang dimaksud meliputi
polusi udara, tanah, dan polusi air.
4) Pelestarian lingkungan hidup.
Isu global worming sudah lama muncul sejak mulai rusaknya lapisan ozon di
atmosfir, hal ini dikarenakan banyak faktor. Antara lain di Indonesia
disebabkankan banyaknya hutan lindung yang gundul serta bergesernya lahan
pertanian/perkebunan menjadi kawasan industri. Hutan merupakan kekayaan alam
yang dapat diberdayakan oleh masyarakat, namun jika dalam pemberdayaan
hutan/sumber daya alam tersebut tidak diimbangi dengan kesadaran untuk menjaga
kelestarian maka dampak yang akan muncul adalah kerusakan lingkungan alam yang
pada akhirnya berdampak pula pada kehidupan manusia sendiri.
5) Peningkatan Mutu Hidup.
Peningkatan mutu hidup yang dimaksud antara lain hak untuk hidup dengan
layak, hak politik, serta hak untuk memperoleh akses pendidikan yang sama.
Secara yuridis formal hak semua bangsa ini adalah sama, namun secara riel
kesempatan politik serta hak untuk memperoleh pendidikan masih didominasi bagi
mereka yang punya uang. Diperburuk lagi dengan adanya RSBI, yang membuat beaya
pendidikan semakin mahal dan menjauh dari jangkauan masyarakat secara umum.
6) Penerapan norma-norma moral dan etika.
Manusia dalam menjalankan hidupnya di dunia ini memerlukan rambu – rambu,
aturan atau norma – norma , agar dalam melaksanakan hidup ini tidak bebas tanpa
ada pembatas serta tidak menghalalkan segala cara. Norma – norma yang dimaksud
adalah baik norma agama, sosial, maupun norma lain yang bersifat mengikat
kepada kelompok masyarakat yang hidup dengan banyak kepentingan dan perbedaan.
7) Keanekaragaman masalah tenaga kerja.
Masalah ketenagakerjaan adalah semakin berubahnya / bergesernya tata nilai
sehubungan dengan masalah ketenagakerjaan. Yaitu meliputi meningkatnya wanita
karier, tenaga kerja dibawah umur, masalah migran, berubahnya pandangan dan
tata nilai peran istri dalam mencari nafkah dsb.
8) Pergeseran Demografi.
Dari tahun ke tahun jumlah penduduk dunia terus meningkat, menigkatnya
jumlah penduduk yang tidak dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi akan menjadikan
beban pembangunan suatu bangsa. Jumlah penduduk yang besar satu sisi merupakan
sumberdaya Tenaga kerja, namun pada sisi lain jika penduduk yang besar tidak
diikuti dengan kondisi ekonomi makro lainnya maka yang akan terjadi adalah
pertambahan jumlah penduduk akan menghambat pembangunan dan meningkatnya angka
kemiskinan.
9) Penguasaan dan pemanfaatan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi
Perkembangan Ilmu dan teknologi semakin pesat terutama perkembangan
teknologi komputer, perkembangan IPTEK , jika tidak diimbangi dengan
pemanfaatan yang mengarah untuk kesejahteraan dan kemakmuran manusia justru
akan menjadikan beban dan penghambat kehidupan suatu bangsa dan negara.
10) Politik.
Masalah politik masih merupakan tantangan dan masalah yang sampai sekarang
ini memerlukan komitmen berbagai pihak untuk menyelesaikan. Masalah politik
tersebut antara lain munculnya gerakan siparatis dan gerakan ekstrems,
pemerintahan yang otoriter, ancaman perang dan upaya suatu negara yang ingin
memperluas wilayah negaranya. Khususnya di Indonesia masalah gerakan sparatis
dan ekstrem kanan ini masih ada, walau mungkin tidak begitu mencuat di mata
dunia.
Kesiapan
Dunia Pendidikan Menyongsong Masa Depan
Untuk dapat bersaing dalam percaturan dunia yang semakin tidak ada batas
ruang dan waktu antar negara, bangsa ini harus berbenah diri dan berkomitmen
secara serius dan bukan retorika maupun formalitas belaka dalam meningkatkan
kualitas pendidikan. Penulis sangat setuju dengan beberapa pihak yang
mengatakan bahwa , pendidikan adalah Human Investment . Human investment ini
akan berdampak pada budaya dan moralitas suatu bangsa untuk dapat hidup dalam
percaturan dunia yang semakin mengglobal. Namun masalah pendidikan di Indonesia
masih memerlukan penanganan secara serius, karena banyak kelemahan dan
kekurangan.
Masalah – masalah pendidikan yang perlu segera ditangani adalah : ( http://mii.fmipa.ugm.ac.id/Oleh : M.
Shiddiq Al-Jawi/ 09-05-2006/22 Mei 2010).
1) Sekularisme Sebagai Paradigma Pendidikan.
Masalah sekularisme adalah masalah
mendasar yang memerlukan perhatian dan respon khususnya dari Pemerintah sebagai
pengambil kebijakan bidang pendidikan. Jarang ada orang mau mengakui dengan
jujur, sistem pendidikan kita adalah sistem yang sekular-materialistik.
Pemikiran ini dilandasi oleh tujuan pendidikan yang tertuang pada UU Sisdiknas
No. 20 tahun 2003 pasal 4 ayat 1 yang berbunyi, “Pendidikan nasional bertujuan
membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak dan berbudi mulia, sehat, berilmu, cakap, serta menjadi warga negara
yang demokratis dan bertanggungjawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan
tanah air.”
2) Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana merupakan
komponen yang terkait langsung dengan pelaksanaan pendidikan pada satuan
tingkat pendidikan. Sarana dan prasarana yang ada pada satuan tingkat
pendidikan sampai saat ini masih banyak memerlukan pembenahan dan ketersediaan
yang memadai. Tidak jarang gedung SD/MI yang sudah rusak, perpustakaan yang
tidak layak tempat dan isinya yang tidak lengkap, laboratorium yang tidak
prosional dengan jumlah peserta didik dan sebagai. Namun demikianm penulis
memahami tidak semua lembaga pendidikan kondisinya belum memenuhi standar.
3) Kualitas Guru
Keadaan guru di Indonesia juga amat
memprihatinkan. Banyak guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk
menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu
merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil
pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian
dan melakukan pengabdian masyarakat. Sesuai dengan UU Guru dan Dosen Guru
seorang Guru harus memiliki 4 kompetensi, yaitu meliputi kompetensi pedagogik,
kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang
diperoleh melalui pendidikan profesi.
4) Rendahnya Relevansi Pendidikan Dengan Kebutuhan
Rendahnya relevansi output dunia
pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja dan dunia usaha, akan berdampak
memunculkan pengangguran. Pengangguran merupakan masalah sosial dan masalah
pembangunan ekonomi yang memerlukan penanganan Pemerintah dan semua komponen
bangsa. Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia
kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang fungsional terhadap
keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.
Peran Pendidikan
Pada Masa Yang Akan Datang
Pendidikan
adalah usaha sadar dan terrencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa
dan negara. Penjelasan tersebut nampak jelas, bahwa pendidikan adalah pembentuk
kepribadian bangsa yang meliputi tiga ranah yaitu kognitif, afektif dan
psikomotorik. Kehandalan/kualitas pendidikan akan mempengaruhi kehidupan suatu
bangsa dan masyarakat, baik sekarang maupun masa yang akan datang. Dengan
demikian kemampuan bangsa dalam menghadapi masa depan sangat ditentukan oleh
mekanisme dan sistem pendidikan yang dimiliki dan sedang berjalan.
Dengan masih
banyaknya kelemahan dan kekurangan pendidikan nasional, berbagai pihak perlu
segera membenahi dan mereformasi dunia pendidikan sebagai bentuk investasi
sumber daya manusia yang diharapkan dapat bersaing dalam era Global. Pendidikan
sains dan teknologi memegang peran besar untuk mempersiapkan bangsa ini menuju
masa depan yang semakin sarat dengan permasalahan – permasalahan baru dan
muncul silih berganti. Sebagaimana uraian di atas pengembangan ilmu dan teknologi
harus diimbangi sistem religi yang proporsional, agar tidak menghasilkan
cendekiawan dan ilmuan yang menghalalkan segala cara. Bangsa Indonesia sedang
mengalami krisis moral, etika dan bahkan krisis terhadap religiusitas dalam
beragama. Sehingga pembenahan mekanisme pendidikan nasional mendesak untuk
dapat dilakukan reformasi dan restrukturisasi. Pemikiran ini berpijak pada
tujuan pendidikan nasional, yang mengarahkan pendidikan dengan tidak
meninggalkan karakteristik bangsa yang bermartabat dan berbudi luhur serta
religius.
Solusi Yang
Ditawarkan
Dengan
mempertimbangkan kondisi pendidikan nasional yang belum semua memenuhi standart
pendidikan nasional, menurut pemikiran penulis sangat memandang perlu untuk
membenahi pendidikan di Indonesia dalam berbagai komponen. Dengan kompleksnya
fenomena masa depan, bangsa ini tidak cukup hanya dengan mewariskan pendidikan
ke generasi bangsa dengan kondisi pendidikan yang syarat dengan kelemahan dan
kekurangan. Diharapkan dengan dilakukan pembenahan pendidikan yang ada, bangsa
Indonesia akan mampu menyongsong masa depan yang penuh ketidakpastian. Tidak
seorangpun yang akan mengetahui keadaan masa depan dengan pasti, walaupun
berdasarkan data yang telah ada dapat dilakukan prediksi – prediksi , namun itu
semua masih bersifat perkiraan dan belum pasti.
Berdasarkan
perkembangan ilmu dan teknologi yang sampai saat ini terus berjalan, kondisi
kehidupan manusia di dunia ini/antara negara satu dengan lainnya semakin tidak
ada batas ruang dan waktu. Kondisi ini akan memicu terjadinya persaingan hidup
yang semakin ketat dari berbagai sektor kehidupan manusia, maka manusia dan
bangsa yang majulah yang akan dapat bersaing dan bertahan dalam percaturan
dunia. Uraian tersebut menunjukkan betapa peran penting dari pendidikan yang
akan membentuk kepribadian dan kemampuan suatu bangsa dan masyarakat dunia.
Kelemahan
dan permasalahan yang menghantam sistem dan mekanisme pendidikan bangsa
Indonesia harus segera dibenahi dan direformasi, agar generasi penerus bangsa mampu
menghadapi tantangan masa yang akan datang. Reformasi pendidikan harus
dilakukan, agar dapat menghasilkan generasi bangsa yang mampu menghadapi
tantangan global.
Sehubungan
dengan permasalahan – permasalahan yang ada sebagaimana disampaikan diatas,
tawaran solusi yang dapat disampaikan oleh penulis adalah :
1) Solusi sistemik,
Yakni solusi dengan mengubah
sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui
sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem
pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi
kapitalisme (mazhab neo liberalisme), yang berprinsip antara lain meminimaliser
peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan
pendidikan untuk peningkatan kualitas bangsa. Kita semua tidak menutup mata,
memang anggaran pendidikan kita sebesar 20 % dari APBN/D, namun sampai sekarang
belum terrealisasi dengan baik, karena 20 % tersebut termasuk gaji para Guru
dan dosen yang semestinya masuk anggaran belanja rutin Pemerintah. Untuk
mewujudkan reformasi pendidikan sebagai pembentuk kepribadian dan kualitas
bangsa, maka sudah selayaknya anggaran pendidikan harus segera direalisasikan
secara bijak dan arif.
2) Solusi teknis
Yakni solusi yang menyangkut hal-hal
teknis yang berkait langsung dengan masalah pendidikan. Solusi ini misalnya
untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi siswa. Maka, solusi
untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk
meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru, misalnya, di
samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan
membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan
memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Inilah tampak
pentingnya pengembangan profesi bagi Guru dengan menempuh berbagai jalur.
Sertifikasi guru merupakan salusi untuk meningkatkan kualifikasi guru walaupun
masih ada kekurangan dan kelemahan .
Kesimpulan
Pendidikan
memegang peranan penting untuk membentuk jati diri suatu bangsa, sehingga pendidikan
harus dijadikan prioritas pembangunan bangsa, agar mampu bersaing dalam
percaturan Global dan menyongsong masa depan. Untuk menghadapi masa depan perlu
dipersiapkan kualitas sumber daya manusia yang handal dan bermartabat,
persiapan untuk menyongsong masa depan tersebut dapat dilakukan melalui
pendidikan yang berkualitas dan bermartabat. Maka sudah sepatutnya dan
sewajarnya bangsa Indonesia segera menyelesaikan berbagai masalah , kelemahan ,
serta kekurangan yang ada dalam sistem dan mekanisme pendidikan secara serius
dengan melibatkan berbagai unsur atau komponen bangsa.
Daftar
rujukan
1. www.mediaindonesia.com/read/2009/06/06/81875/88/14/Anggaran-Pendidikan/diunduh
20 Mei 2010
2.
http://mardiya.wordpress.com/2009/12/22/pendidikan-masa-depan-konsep-dan-tantangan/
oleh Mardiya/diunduh22 Mei 2010
3. http://mii.fmipa.ugm.ac.id/Oleh : M. Shiddiq Al-Jawi/ 09-05-2006/diunduh
22 Mei 2010.
4. Faisal Basri, Haris Munandar , Jakarta , Lanskap Ekonomi Indonesia,
Kencana , 2009,
5. The World Bank Office Jakarta, Era Baru Pengentasan Kemiskinan , gradi
aksara, 2006, Jakarta
6.
http://sarrahceria.blogspot.com/2010/03/grafik-pengangguran-di-indonesia-tahun.html/
diunduh 22 Mei 2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar